AKIBAT RADIASI

AKIBAT RADIASI

19 Maret 2011 oleh mas-Giy

Dalam sejarah kematian akibat radiasi atau terpapar radioaktif, sang korban tidak selalu berprofesi sebagai peneliti nuklir atau pekerja di instalasi nuklir. Fakta menunjukkan bahwa masyarakat sipil justru menempati posisi teratas sebagai korbannya. Pada tulisan pertama kematian akibat radiasi telah menyebutkan korban bom atom di Hiroshima dan Nagasaki mencapai lebih dari 100.000 orang. Silakan anda perbandingkan jumlah tentara dan masyarakat sipil disetiap negara, tentu masyarakat sipil-lah yang paling banyak jumlahnya

Sejarah juga mencatat, bahkan seseorang yang tidak memiliki sangkut paut dengan teknologi nuklir-pun dapat menjadi korban paparan radioaktif, seperti tokoh bernama Eben McBurney Byers dan Alexander Litvinenko. Anda dapat membaca kisah mereka dalam tulisan dibawah ini.

Pembaca  pasti tahu  pemerintah Jepang mendirikan tugu peringatan sebagai pengingat jatuhnya korban yang ratusan ribu jiwa serta hancurnya kota Hiroshima dan Nagasaki akibat bom atom. Mungkin berangkat dari ide yang nyaris sama, pemerintah Ukraina juga berencana menjadikan Chernobyl sebagai salah satu tujuan wisata. Terdengar konyol, gila atau sableng? Terserah anda untuk menilainya

Anda dapat membaca secuil kisah Chernobyl dan kisah mesin perang milik sebuah negara adidaya dalam tulisan berikut sekaligus menjadi tulisan terakhir dari serial kematian akibat radiasi.  Selamat menikmati

Eben McBurney Byers

Eben McBurney Byers termasuk kedalam kelompok orang yang makmur bahkan sangat makmur. Dia adalah seorang pesohor, atlet, dan sekaligus pengusaha. Pada tahun 1927, Byers jatuh dari tempat tidur dan berakibat lengannya terluka, dia merasa sangat kesakitan dan dokter memberi saran agar dia mengkonsumsi Radithor. Radithor adalah obat yang mengandung radium dalam konsentrasi tinggi, dan Byers mengkonsumsi Radithor hampir sebanyak 1.400 botol selama tiga tahun

Pada 1930,  Byers berhenti mengkonsumsi obat tersebut, namun tulang-tulangnya telah teracuni oleh radium dalam jumlah besar. Radium tersebut mengakibatkan kerusakan pada sebagian besar rahangnya, tulang tengkorak keropos dan otaknya membengkak  Akhirnya dia meninggal pada 31 Maret 1932 dan saat dikubur peti matinya dilapisi timah

Alexander Litvinenko

Alexander Litvinenko adalah seorang mantan perwira KGB yang lolos penuntutan hukum pemerintah Rusia dan mendapat suaka politik di Inggris. Pada bulan November tahun 2006 tiba-tiba dia jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit, namun meninggal dunia tiga minggu kemudian

Otopsi yang dilakukan oleh pemerintah Inggris mendapatkan petunjuk penyebab kematianya, Litvinenko diracun dengan Polonium-210. Bahan yang mengandung radioaktif tersebut dicampurkan ke dalam teh yang  dia minum. Sebelum ajalnya tiba, Litvinenko menuduh Presiden Rusia Vladimir Putin berada di balik kematiannya

Tak ayal, penyelidikan yang dilakukan oleh pemerintah Inggris terhadap kematian Litvinenko berujung pada memburuknya hubungan diplomatik Inggris – Rusia. Sumber tidak resmi pemerintah Inggris menegaskan bahwa “Inggris 100% yakin siapa pelaku yang merencakan pembunuhan, termasuk waktu pelaksanaan dan cara atau metodenya”.  Tersangka utama dalam kasus tersebut adalah Andrei Lugovoy yang merupakan seorang mantan perwira dari The Russian Federal Protective Service (FSO).

Kapal selam K-19

Rudal balistik berhulu ledak nuklir merupakan senjata yang meresahkan seluruh negara di dunia. Secara umum, senjata tersebut berada dalam sebuah terminal khusus (arsenal) di lokasi rahasia dan strategis. Namun pada perkembangannya, senjata tersebut juga menjadi bagian dari persenjataan yang dimiliki kapal selam, dan kapal selam K-19 adalah satu diantara dua kapal selam milik Uni Soviet yang pertama kali dilengkapi dengan rudal penjelajah antar benua tersebut.

Kapal selam K-19 juga merupakan kapal selam bertenaga nuklir. Pada masa pembangunannya, kapal selam  tersebut telah merenggut beberapa korban jiwa sehingga para prajurit dan perwira AL Uni Soviet memberi julukan  “Hiroshima” baginya

Pada 4 Juli 1961,  K-19 mengalami kebocoran serius pada sistem pendingin reaktor yang menyebabkan naiknya temperatur reaktor ketingkat yang sangat berbahaya. Konon reaktor tersebut mencapai suhu hingga mencapai 800°C. Diduga karena buruknya desain dan parahnya kerusakan reaktor, maka pompa pendingin cadangan-pun tidak dapat dipasang. Kapten Nikolai Vladimirovich Zateyev yang bertugas sebagai komandan kapal K-19 menugaskan sebuah tim yang berisi tujuh teknisi dan staff untuk melakukan perbaikan meskipun resiko paparan radiasi berada pada tingkat yang mematikan

Tim teknisi dan staff memang berhasil menghentikan kebocoran  namun hanya dalam seminggu semuanya meninggal dunia:oops: Insiden tersebut menyebabkan seluruh kapal terkontaminasi radioaktif dan dalam beberapa tahun berikutnya lebih dari 20 (dua puluh) awak kapal meninggal dunia terkait dengan kebocoran tersebut

Angkatan Laut Uni Soviet melakukan perbaikan menyeluruh pada K-19 hingga kapal tersebut dapat kembali di operasikan. Namun nasib buruk K-19 tidak juga berakhir, termasuk terjadinya tabrakan pada tahun 1969 dan peristiwa kebakaran pada tahun 1972 yang mengakibatkan meninggalnya 28 prajurit  Pada akhirnya K-19 di non aktifkan dari jajaran AL pada tahun 1991

Chernobyl

Walau belum dapat dipastikan kapan waktunya, pemerintah Ukraina berencana menjadikan Chernobyl sebagai salah satu tujuan wisata Pembaca mungkin heran atau bahkan menganggap gila pada rencana tersebut, namun seperti itulah yang pernah saya baca dari situs Popular Science (popsci). Silakan anda obok-obok halaman popsci.com untuk mencari artikel tersebut.

Namun menurut saya, rencana pemerintah Ukraina bukanlah rencana gila atau sejenisnya. Fakta menunjukkan bahwa kota Hiroshima dan Nagasaki masih dapat dihuni oleh manusia bahkan berkembang pesat layaknya kota-kota di Jepang lainnya

Bagi anda yang belum mengetahui atau bahkan belum lahir pada tahun 1986, berikut adalah sedikit cerita tentang Chernobyl.

Pada tanggal 26 April 1986 terjadi kerusakan di reaktor nomor 4 pada PLTN Chernobyl di Ukraina. Ketika itu para pekerja di PLTN tersebut berencana melakukan pengujian untuk mengetahui berapa lama turbin akan berputar dan memberi pasokan listrik ke pompa sirkulasi utama ketika dia kehilangan daya listrik.

Karena petugas yang berkompeten sedang libur, maka pengujian tersebut akhirnya ditunda. Namun penundaan tersebut tida berlangsung lama, karena pengujian tetap dilangsungkan pada malam harinya dengan melibatkan para pekerja yang belum terlatih untuk prosedur pengujia  Dan beberapa kesalahan-pun terjadi, termasuk  keputusan untuk menonaktifkan mekanisme shutdown otomatis. Hal tersebut menyebabkan konfigurasi reaktor yang tidak stabil dengan hampir semua tuas pengendali tidak berfungsi

Akibatnya laju reaksi di bagian reaktor meningkat dan terjadilah akumulasi tenaga yang sangat besar serta temperatur reaktor menjadi sangat panas.  Akhirnya akumulasi tenaga tersebut menyebabkan reator meledak dan melepaskan ber ton-ton uap radioaktif dan produk fisi nuklir lainnya ke udara. Tingkat radiasi di sekitar inti  reaktor setelah terjadinya ledakan adalah 30.000 kali dari batas mematikan

Satu orang pekerja meninggal dunia seketika dan tubuhnya tidak pernah ditemukan beberapa pekerja lainnya meninggal dunia pada hari itu juga sebagai akibat dari luka yang diterima selama ledakan.

Penyakit akut akibat radiasi pada awalnya didiagnosis terjadi pada 237 orang yang berada di lokasi tersebut dan serta mereka yang terlibat dalam proses pembersihan. Namun rilis akhir hanya mengkonfirmasi sebanyak 134 orang, 28 orang diantaranya meninggal dunia seminggu setelah peristiwa ledakan termasuk 6 (enam) orang petugas pemadam kebakaran yang bersiaga diatap bangunan turbin.

Antara tahun 1987 hingga 2004 terdapat 19 korban meninggal dunia yang berkaitan dengan peristiwa ledakan PLTN tersebut. Tidak ditemukan penderita  efek radiasi akut dari warga yang berada diluar lingkungan PLTN meskipun sebagian besar anak didiagnosa menderita kanker tiroid akibat terpapar iodine. Penelitian lebih lanjut menyebutkan diperkirakan terdapat lebih dari satu juta orang terkena radiasi, mereka tersebar di Ukraina, Rusia, dan Belarusia, namun sejauh mana dampak yang ditimbulkannya tidak diketahui secara pasti.

Pada tulisan sebelumnya, halaman ini sedikit memaparkan dampak nuklir yang cenderung negatif dan telah terjadi di Jepang. Kecelakaan nuklir yang berakibat paparan radiasi tidak hanya terjadi di Jepang, bahkan setiap negara yang memiliki teknologi tersebut pasti pernah mengalami kecelakaan walaupun tingkat keparahan dan paparan radiasinya belum tentu membahayakan kesehatan maupun kehidupan. Paparan radio aktif dalam jumlah sangat besar dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat.

Jika pada tulisan sebelumnya cenderung bercerita tentang korban nuklir, maka tulisan kali ini akan bercerita tentang subyek yang berkaitan langsung dengan nuklir. Tentu saja subyek disini adalah para ilmuwan yang bekerja di laboratorium melakukan penelitian dan pengujian nuklir. Anda tentu dapat menduga resiko apa yang mungkin diterima oleh tubuh para ilmuwan tersebut. Walaupun mereka bekerja dengan menggunakan pakaian khusus, namun mereka tidak mungkin terhindar dari paparan radioaktif, apalagi interaksi mereka dengan benda berbahaya tersebut berlangsung berulang-ulang dan terus menerus.

Beberapa tokoh dibawah ini, justru menjadi korban dari penelitian mereka sendiri. Diantaranya disebabkan karena kelalaian atau bahkan karena ketidak tahuan Anda dapat membaca kisah Marie Curie untuk kasus ketidak tahuan tersebut. Jadi tanpa berpanjang kata, segera nikmati sajian yang menarik berikut ini.

Cecil Kelley

Kecelakaan terjadi pada laboratorium pemrosesan plutonium di Los Alamos pada 30 Desember 1958, dan  merenggut korban jiwa dari salah seorang ahli kimia bernama Cecil Kelley. Pada saat kejadian, Cecil Kelley bekerja pada sebuah tabung (mixing tank) yang berisi larutan dengan kandungan plutonium yang sangat besar. Konon kandungan plutonium dalam larutan tersebut mencapai 200 kali lipat dari yang biasanya, yaitu sebesar  0.1 gr plutonium pada setiap liter larutan.

Ketika Kelley mengaktifkan peralatan, cairan di dalam tangki membentuk pusaran yang mengakibatkan lapisan plutonium dalam larutan menghasilkan ledakan neutron sangat besar serta menghasilkan radiasi sinar gamma yang berlangsung selama 200 mikrodetik. Kelley, yang tengah mengamati larutan langsung menjadi korban ledakan.

Ketika dalam perjalanan kerumah sakit, Kelley terus menerus muntah-muntah dan irama nafasnya sangat cepat. Tubuh Kelley telah terpapar radiasi dalam dosis besar, bahkan kotoran yang keluar dari tubuhnya-pun terdeteksi adanya kandungan radioaktif. Pemeriksaan lebih lanjut menunjukkan sumsum tulang belakang Kelley telah rusak, sehingga obat apapun tidak sanggup meredakan rasa sakit pada perutnya. Dan 35 jam setelah kecelakaan Kelley meninggal dunia

Harry K. Daghlian.Jr

Harry K. Daghlian. Jr adalah seorang fisikawan keturunan Armenia-Amerika yang bekerja pada Manhattan Project. Manhattan Project merupakan sebuah lembaga penelitian resmi milik pemerintah AS, dan lembaga ini pula yang berhasil membuat bom atom untuk pertama kalinya.

Pada tanggal 21 Agustus 1945, Daghlian melakukan percobaan membangun sebuah reflektor neutron secara manual dengan menyusun bata tungsten carbide disekitar inti plutonium. Saat ia menyusun bata yang terakhir, sistim peringatan dini bereaksi. Celakanya, tanpa sengaja ia menjatuhkan batu bata tersebut ke dalam ruangan yang sedang ia susun. Konon, penambahan lapisan bata tersebut menyebabkan reaksi plutonium berada dalam kondisi berbahaya dan menjadi sangat berbahaya lagi saat terkena hantaman bata yang terjatuh.

Daghlian menjadi panik dan berusaha untuk mengambil bata yang terjatuh, namun usahanya tidak berhasil. Dan dengan terpaksa dia harus membongkar sebagian susunan bata untuk menghentikan reaksi plutonium tersebut. Akibatnya dia harus menerima radiasi neutron dalam dosis yang mematikan dan meninggal dunia 25 hari kemudian

Louis Slotin

Seperti halnya Daghlian, Louis Slotin juga bekerja pada lembaga yang berhasil membuat bom atom untuk pertama kalinya : Manhatan Project. Louis Slotin adalah seorang ahli fisika dan kimia dari Kanada, dan dia merupakan salah seorang yang melakukan pengujian/penelitian terhadap inti plutonium.

Pada 21 Mei 1946,  Slotin dan peneliti lainnya melakukan sebuah percobaan fisi atom dengan menempatkan bola-bola berillium disekitar inti plutonium.  Terjadi kecelakaan pada percobaan tersebut, para ilmuwan yang berada di dalam ruangan menyaksikan adanya cahaya biru dan merasakan gelombang panas.

Slotin terkena radiasi dalam dosis yang mematikan, konon setara dengan jumlah yang akan diterima oleh seseorang yang berada dalam jarak 1.500 meter dari pusat ledakan bom atom. Dia segera dilarikan ke rumah sakit, tapi tidak dapat bertahan dan meninggal sembilan hari kemudian pada tanggal 30 Mei 1946.

Marie Curie

Marie Sklodowska Curie atau lebih dikenal dengan Marie Curie adalah seorang ahli fisika sekaligus ahli kimia dan perintis dalam bidang penelitian radioaktif.  Fenomena radioaktif telah ditemukan oleh Henri Becquerl beberapa tahun sebelum Marie Curie menciptakan istilah radioaktif. Selain dikenal sebagai peneliti sifat-sifat beberapa jenis uranium, Marie Curie juga dikenal dengan penemuan lainnya seperti : radium dan polonium, serta unsur-unsur radioaktif lainnya. Dan jerih payah Marie Curie tersebut pada akhirnya mengantarnya untuk mendapat penghargaan Nobel dibidang kimia dan fisika sekaligus.

Suami Marie Curie juga merupakan seorang peneliti. Pierre, demikian namanya,  pada akhirnya justru menghentikan penelitiannya sendiri dan bergabung dengan penelitian yang dilakukan oleh Curie. Namun pada tahun 1906, Pierre meninggal dunia pada sebuah kecelakaan lalu lintas.

Curie memisahkan radium dari uranium, dimana dari satu ton uranium hanya terkumpul sepersepuluh gram radium klorida. Sebuah penelitian yang sangat berat, apalagi Marie Curie tidak menyadari bahwa material tersebut memiliki efek yang dapat merusak kesehatan dan tentu saja dia menerima paparan radiasi secara berulang-ulang.

Apalagi dia sering menyimpan tabung berisi reaksi radioaktif isotop di laci meja, mengamati dan memberinya catatan  dalam kegelapan terhadap benda bercahaya biru-kehijauan tersebut. Bahkan tidak jarang pula dia mengantongi tabung tersebut dalam sakunya  Pada akhirnya Marie Curie menderita anemia aplastik yang diakibatkan oleh paparan radiasi dan meninggal pada 4 Juli 1934.

Laboratorium yang digunakan oleh Marie Curie akhirnya dipelihara di Musee Curie (musium?). Tetapi seluruh peralatan yang ada sangat tercemar radioaktif, bahkan buku panduan memasaknya-pun juga tercemar radioaktif. Maka barang-barang tersebut disimpan dalam beberapa peti yang berlapis-timah dan bagi mereka yang ingin “berinteraksi” dengan barang-barang tersebut  diwajibkan menggunakan pakaian pelindung

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: